BERITA
MEDIA INDONESIA: MEMBANGUN SOLIDARITAS DAN SAMA-SAMA UNTUNG!

  Share


[PAGE 1] MEDIA INDONESIA: Jakarta Macet, Nebeng Yuk!, 9 Desember 2012

Selama sistem transportasi di Jakarta masih buruk, nebeng atau naik mobil pribadi yang DIOMPRENGKAN dengan tarif tertentu adalah salah satu solusi atasi macet.

JALANAN di Jakarta identik dengan kemacetan. Namun, kemacetan itu tidak segaduh saat-saat jam kantor yang datang dua sesi dalam sehari. PAgi sekitar pukul 07.00-09.00 dan sore pukul 17.00-20.00 WIB.

Dua sumbu waktu kemacetan itulah yang belum bisa dicarikan solusinya oleh pembuat kebijakan di Jakarta.

Model 3 in 1 terbukti gagal. Pemberlakuan pelat nomor ganjil-genap yang akan diterapkan juga belum tentu berhasil. Lupakan sejenak soal kebijakan penanganan kemacetan itu.

Mari tengok apa yang sudah dilakukan puluhan ribu orang, terutama karyawan , dalam mengatasi ketidakbersahabatan jalanan di Jakarta saat jam sibuk itu. Rabu(5/12) sekitar pukul 06.00, Ghani, 45, sudah berpakaian rapi siap menuju kantornya di kompleks perkantoran Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jakarta Selatan.

Dari rumahnya di Kompleks Gading Serpong, Tangerang, ia cukup berjalan kaki menuju depan Ruko Golden Madrid 2, Jl. Letnan Sutopo, tak jauh dari rumahnya. Disitu Ghani tidak sendirian. Banyak temannya yang biasa ditemui di ruko itu melakukan hal yang sama.

Mereka tidak menunggu bus atau angkutan umum lainnya, tetapi tebengan, yakni mobil pribadi yang siap mengangkut mereka menuju tempat kerja.

Lima menit berselang sebuah Toyota Yaris berhenti menghampiri Ghani. Ia langsung masuk ke mobil tersebut. Seperti biasa di dalam mobil sudah ada empat orang, yakni Deny pemilik mobil dengan istrinya dan dua penebeng lainnya.

Perjalanan tiap pagi yang mereka alami selalu lancar. "Dengan nebeng saya merasa bisa menyiasati kemacetan Jakarta, aman, nyaman dan tambah teman" kata Ghani.

Waktu terus berlalu dan jalan-jalan di Jakarta terus di dera macet. Sekitar pukul 17.00 di depan pertokoan Sarinah, puluhan karyawan dan pekerja informal tampak berbaur dan berkumpul di satu tempat penantian. Mereka menunggu mobil berpelat hitam mengantar pulang.

Dalam penantian itu ada saja yang mereka lakukan. Ada yang mengisi waktu dengan bercakap-cakap sesama penebeng. Minum kopi dan jajanan ringan yang dijajakan oleh penjual kopi keliling dan lain-lain.

Salah satu di antara mereka ialah Yanti, seorang pegawai di kantor pemerintahan. "Saya merasa lebih nyaman dan aman nebeng. Sekalian tambah teman", ujarnya.

Yanti mengaku punya mobil pribadi dan tinggal di Bekasi itu mengatakan selama sistem transportasi di Jakarta masih buruk, nebeng atau naik mobil pribadi yang diomprengkan dengan tarif tertentu adalah salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan Jakarta.

Belum lagi dari aspek lingkungan, banyak timbel yang bisa diminmalkan. Ternyata tidak sedikit manfaat dari nebeng. Nebeng yuk! (*/Iwa/M-1)


[PAGE 9] MEDIA INDONESIA, Membangun Solidaritas dan sama-sama untung!, 9 Desember 2012

Sebagian kaum urban dan karyawan memanfaatkan jasa layanan nebeng sebagai transportasi alternatif yang lebih nyaman, aman dan menambah kawan.

Oleh Iwan Kurniawan-Media Indonesia

Langkah kaki Ita Nurlalela, 38, seorang karyawati di sebuah perusahaan finansial, tampak cekatan. Waktu sudah mulai beranjak sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Ia begitu terburu-buru saat meninggalkan kantornya di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan. Ia harus tepat waktu untuk mencari tumpangan alias nebeng di sekitar kawasan SCBD

Ita mengaku sudah nebeng sejak 2000 silam. Baginya, transportasi pelat hitam itu lebih nyaman, aman dan terjangkau. "Menggunakan jasa tebengan lebih efektif. Tinggal kita saweran untuk mengganti ongkos bensin dan tol," kata warga Cimanggis itu.

Ita sudah mengetahui secara jelas mobil yang akan dia tebengi bahkan ia mengenal pemiliknya cukup dekat meski bukan teman sekantornya. Di antara mereka seperti sudah ada komitmen, kapan waktu berangkat dari rumah dan pulang dari kantor.

Komunikasi untuk urusan nebeng ini cukup intens. Tidak jarang, jika ada urusan lain, sebelum pulang Ita memberitahukan terlebih dahulu agar tidak ditunggu. "Jadi pemilik mobil bisa menentukan waktu dengan tepat bertemu untuk menghindari macet. Demikian sebaliknya, jika pemilik tebengan berhalangan masuk kerja, saya juga dapat kabar sehingga bisa bawa mobil sendiri," katanya.

Meski demikian, Ita merasa lebih nyaman nebeng ketimbang menyetir mobil sendiri. Alasannya, jika merasa capek, ia bisa tidur di dalam mobil. Tapi Ita mengaku lebih banyak berbincang dengan teman nebengnya saat berada di dalam mobil. "Ada saja yang kita bicarakan terutama cerita-cerita pada seputar lingkungan kerja masing-masing," katanya.

Tidak jarang pembicaraan itu mengarah pada masalah keluarga yang ringan-ringan. Ita misalnya, mengaku terkadang melontarkan pembicaraan tentang sekolah anaknya kepada penebeng satu mobil. Beberapa saran pun ia dapatkan meski semuanya tidak ia lakukan.

"Terkadang ada juga saran yang baik dari teman-teman satu tebengan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan," katanya.

Solidaritas

Kebiasaan nebeng ini bisa diibaratkan simbiosis mutualisme, dan membantu meringankan tugas Pemprov DKI dalam mengatasi kemacetan Ibu Kota, terutama di jalan-jalan protokol di Jakarta dan antarkota seperti Bogor, Bekasi, Depok dan Tangerang.

Hal itu terjadi karena Jakarta sebagaitempat tujuan bekerja dari warga-warga komuter tersebut. Bisa dibayangkan jika tidak ada aksi kreativitas dan solidaritas warga seperti nebeng, kemacetan Jakarta akan semakin parah lagi.

Manfaat positif dari nebeng itu diakui Budi Dharmawan, seorang pegawai di sebuah bank swasta di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. "Saya sering memberikan tebengan kepada penumpang yang kebetulan saya kenal. Hampir semuanya sudah saya kenal karena jalur pulang kami searah," ujarnya.

Saat Media Indonesia menemuinya, Budi sedang menunggu beberapa penumpang yang telah menjadi 'langganan' tetapnya. Bahkan, katanya, para penumpang sering membuat janji dengannya lewat pesan singkat atau telepon seluler. "Saya tak matokin harga. Yang penting sama-sama menguntungkan dan nyaman untuk pulang ke rumah di sekitar Cimanggis dan sekitarnya," jelasnya.

Ketika tidak ada tarif, Budi mengaku 'saweran' dari penebeng di mobilnya tidak pasti jumlahnya. Dengan mengendarai sebuah mobil sedan warna putih itu, Budi mengaku sering kali menerima ongkos dari penebengnya sekitar Rp. 10 ribu hingga Rp15 ribu setiap orangnya.

Sumber:Link www.mediaindonesia.com

"Satu saat cukup untuk bayar ongkos tol dan bensin harian, hari berikutnya minus," ujarnya

Namun dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. "Jika dihitung-hitung dalam sebulan, saya sudah tidak mengeluarkan uang transpor ke kantor," ujarnya diiringi tawa.

Budi yang mengaku sudah empat tahun membuka 'jasa nebeng' itu membenarkan adanya keuntungan lain dari upayannya itu.

Si pemilik mobil mendapatkan keuntungan dengan bisa menerobos jalur 3 in 1 tanpa ditangkap polisi, sedangkan si penumpang (orang yang nebeng) tak berlama-lama menunggu angkutan umum untuk pulang selepas kerja. "Penumpang pun bisa mendapatkan kenyamanan ber-AC dan aman setidaknya tidak khawatir kecopetan." katanya lagi. (*/M-1)

miweekend@mediaindonesia.com

Mencari Penebeng demi Rasa Aman

JANGAN main-main dengan jam kantor di Jakarta. Ungkapan itu sudah diakrabi pekerja kantoran di Jakarta.

Sedikit saja meleset menyiasati waktu berangkat atau pulang kerja, risikonya bisa fatal. Kemacetan pasti sudah menghadang di jalanan dan waktu yang sudah direncanakan buyar berantakan

Bisa saja seorang karyawan yang berkantor di Jakarta, pagi-pagi sudah bergegas dari rumah. Namun karena angkutan umum yang ditunggu belum juga nongol, prediksi sampai kantorpun melesat. Telat.

Itulah yang mendasari puluhan ribu pekerja kantoran di Jakarta menyiasatinya dengan cara nebeng. Bagi pemilik mobil yang ditumpangi, ternyata juga tidak ada salahnya mengikhlaskan mobilnya untuk ditebengi.

Sebutlah Mulyadi, 40, seorang staf keuangan di perusahaan swasta di Kedoya, Jakarta Barat. Sejak 2007 dia sudah menjadikan mobilnya sebagai tempat teman-temannya menebeng. "Saya ingin aman di jalan dan bisa mendapat teman ngobrol sepanjang perjalanan dari Cibinong ke Jakarta atau sebaliknya," katanya.

Dengan mobil Avanza dia bisa menampung teman-temannya sebanyak tujuh orang. Beberapa diantaranya adalah teman sekantor dan yang lainnya teman yang bekerja di wilayah Sipi, Jakarta Pusat.

Mulyadi memang tidak tergabung dalam komunitas Nebeng.com. Mencari penebeng adalah inisiatifnya sendiri dan itu tidaklah sulit. Banyak orang yang membutuhkan tumpangan nonangkutan massal.

Karena rutin bertemu setiap hari kerja, Mulyadi mengenal semua orang yang nebeng di mobilnya. "Saya hanya mau bawa penebeng yang memang teman sendiri atau temannya teman saya. Ini soal faktur keamanan juga," ujarnya.

Dari Cibinong, biasanya Mulyadi berangkat pukul 06.30 WIB. Teman-temannya yang nebeng sudah menunggu di gang rumahnya di Cibinong.

Kalau Senin, dia dan teman-temannya harus berangkat ke kantor lebih awal. Mereka semua sepertinya sudah paham, kapan berangkat lebih awal dan kapan normal saja.

Untuk menjaga kebersamaan, Mulyadi memberlakukan sistem 'iuran bersama' untuk membeli bensin dan ongkos jalan tol. Atas kesadaran teman-temannya pula tiap orang membayar Rp.8.000. "Itu cukup untuk membeli bensin," ujarnya.

Sore hari, saat pulang kantor biasanya Mulyadi menunggu teman-teman penebengnya di sekitar Slipi Jaya. Namun akhir-akhir ini Mulyadi merasa sulit menyesuaikan jam pulang dengan teman-temannya yang lain kantor itu. Dari Slipi Jaya, mobilnya langsung masuk tol menuju Cibinong.

Saat ini Mulyadi tidak sesering dahulu memberi tebengan pada teman-temannya. Alasannya, kondisi macet yang berlebihan di Jakarta sulit untuk diprediksi bisa tepat waktu bertemu.

"Kadang teman beda kantor menunggu kami di jalan terlalu lama karena saya terjebak macet. Daripada tak menentu, dia saya bebaskan memilih tebengan orang lain. Saya lebih banyak memberi tebengan kepada teman sekantor saja," ujarnya. (*/M-1)

Berbagi Info di Komunitas Nebeng

BERAWAL dari sebuah keprihatinan. Rudyanto yang tinggal di Lippo Karawaci Village, , Tangerang, sering mengalami macet di Jalan Tol Jakarta-Merak saat menuju kantornya di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Ia merasa risau, dalam kemacetan yang luar biasa itu, di kiri-kanan mobilnya banyak kendaraan pribadi yang cuma ditumpangi satu orang, pemilik mobil.

Rudi bertanya dalam hati, apakah orang sekarang sudah sangat individualis? Untuk menghindari macet, mengapa mobil pribadi tidak digunakan bersama-sama?

Hingga pada 28 September 2005,pemerintah menaikkan harga BBM dari Rp. 2.00 menjadi Rp. 5.400. Rudi berpikir, inilah momen tepat untukmengubah pola pikir masyarakat yang tiap hari bersentuhan dengan kemacetan di Jakarta.

Kenaikan harga BBM itu tentu saja menyebabkan ongkos angkutan ikut naik termasuk biaya operasional mobil pribadi. "Saya berpikir nebeng menjadi salah satu alternatifnya," ujar Rudi.

Proyek pribadi pun ia lakukan. Awalnya Rudi hanya mengajak sepupu, pacar dan teman yang ingin berangkat bersama menuju kantor di Jakarta. Kemudian, dia memperluas idenya itu dengan membuat milis bernama nebeng@yahoogroups.com.

Rupanya, ide tersebut direspon positif. "Ternyata warga Jakarta memiliki keluhan yang sama , yaitu macet. Saya kemudian menampungnya dengan membuat nebeng.com," kata pria kelahiran 1974 itu.

Rudi menjelaskan, cara bergabung dengan komunitas cukup mudah. Tebengan (pemberi jasa transportasi) dan penebeng cukup membayar biaya pasang data sebesar Rp. 20ribu atau Rp.50 ribu jika ingin mendapatkan stiker nebeng.com. Pembayaran ini hanya dilakukan sekali.

Setelah mendaftar, harus mengisi data-data berupa nama lengkap, tempat tinggal, kantor, kampus, telepon, e-mail, rute yang dilalui, serta tipe dan kondisi mobil (khusus pemberi tebengan).

"Setelah diverifikasi nebeng.com akan memasukkan semua data anggotanya ke website," ujarnya. Lantas Rudi mencarikan dan mencocokkan jadwal perjalanan dan tujuan pemberi tebengan dan penebeng yang tentunya akan menjadi rutinitas tiap harinya.

Di dalam website, pemberi tebengan juga melampirkan syarat kepada penebeng tentang hal-hal yang harus dipatuhi. Misalnya, dilarang merokok di dalam mobil atau memberi tumpangan kepada peremputan saja.

Untuk rute biasanya di sekitar perkantoran di Jakarta seperti kawasan Segitiga Emas Kuningan, Sudiran dan Thamrin. /ja

Jadwal tebengannya pun juga disesuaikan dengan jadwal keberangkatan dan kepulangan si pemberi tebengan. Pemberi tebengan dan penebeng disesuaikan berdasarkan data-data yang masuk dalam akun nebeng.com . Pemberi tebengan dan penebeng biasanya disatukan karena kedekatan lokasi tempat tinggal dan juga kantor atau yang searah dengan rute tujuan.

Nebeng.com juga memberkan informasi agar antara penebeng dan pemberi tebengan mengetahui siapa-siapa saja yang bergabung dalam grup kendaraannya.

Saling Percaya

Rudi mengatakan upayannya itu juga bagian dari penumbuhan kembali filosofi hidup masyarakat Indonesia, yakni gotong royong. "Saya yakin Indonesia bukan kumpulan individu yang egois."

Nebeng.com membantu warga Jakarta untuk bisa saling percaya pada sesama pengguna jalan dan menghindari kemacetan.Dengan nebengjuga membantu banyak orang mencari teman dan berinteraksi dalam banyak hal.

"Banyak anggota nebeng.com mengaku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena sharing dengan teman nebeng. Ada juga yang memanfaatkan untuk bisnis seperti MLM. Banyak hal positif yang didapat," ujarnya.

Saat ini jumlah anggota yang terdaftar secara resmi, yaitu 45.000 orang. Pemberi tebengan sebanyak 17.000 sementara penebeng sebanyak 28.000 orang.(*/M-1)

Sumber  Link www.mediaindonesia.com








      INDEX BERITA TERKINI
+ index 


      KUNJUNGAN MAHASISWA
+ index 


  TOP FOTO & VIDEO

INDONESIA INNOVATES
03.07.2013
NEBENG.com is recognised as an Indonesia Innovates Hero for their pioneering application of the Internet in the field of TRANSPORTATION
See more

Antara TV
31.08.2012
Mengurangi Kemacetan dengan Nebeng
See more


IKLAN BARIS   IKLAN BANNER   KONTAK KAMI   BANTUAN

© 2005 - 2018 NEBENG.com - All rights reserved
Created by CV MITRA UTAMA NIAGA